Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Fault Tree Analysis (FTA)

7:28 PM Add Comment
Fault Tree Analysis (FTA) adalah suatu alat untuk menganalisis, dengan tampilan visual (gambar) dan mengevaluasi jalur dari suatu kegagalan pada sistem serta menyediakan suatu mekanisme untuk mengevaluasi tingkatan bahaya pada sistem (Ericson, 1999). Konsep mendasar dari fault tree analysis adalah menterjemahkan dan menganalisis suatu kegagalan atau kesalahan dari sistem kedalam bentuk diagram visual dan model logika (Ericson, 1999). Diagram visual memberikan suatu bentuk model visual yang dengan mudah menggambarkan hubungan-hubungan yang ada pada sistem dan akar permasalahan yang terjadi (Ericson, 1999). Sementara model  logika memberikan mekanisma evaluasi secara kualitatif dan kuantitif (Ericson, 1999).  Suatu aturan dan symbol yang sederhana membantu menganalisis suatu sistem dan hubungan yang kompleks antara perangkat keras, perangkat lunak dan manusia (Ericson, 1999).

1) Tujuan Teknik ‘Analisis Pohon Kesalahan’
Teknik Analisis Pohon Kesalahan atau FTA digunakan pada bidang keahlian teknik mesin, khususnya pada industri-industri di mana kegagalan teknis memiliki dampak yang sangat besar seperti industri energi nuklir dan penerbangan. Namun, teknik ini juga dapat digunakan dalam praktik manajemen risiko secara umum di semua sektor. Dalam praktik manajemen risiko, FTA adalah teknik untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor yang dapat berkontribusi pada kejadian yang tidak diinginkan (disebut “kejadian puncak” / “peristiwa risiko utama”).

Bagaimana mencari akar/sumber penyebab dari suatu peristiwa risiko? Analisis Pohon Kesalahan merupakan metode yang tepat dalam memahami bagaimana sebuah sistem dapat gagal atau dalam konteks manajemen risiko, bagaimana sebuah risiko dapat terjadi dan apa saja penyebabnya. Teknik ini dapat mengidentifikasi cara terbaik untuk mengurangi tingkat risiko dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu peristiwa risiko. Faktor-faktor penyebab risiko diidentifikasi secara deduktif, disusun secara logis dan tergambar dalam bentuk diagram pohon yang menggambarkan hubungan logis antara faktor penyebab tersebut dengan peristiwa risiko.

2) Kegunaan Teknik ‘Analisis Pohon Kesalahan’
Suatu pohon kesalahan dapat digunakan secara kualitatif untuk mengidentifikasi penyebab potensial dan jalur menuju peristiwa risiko utama dan secara kuantitatif untuk menghitung probablilitas peristiwa utama yang tidak diharapkan terjadi, dengan mengetahui probabilitas dari sebab-akibat kejadian.

Perlu diingat bahwa probabilitas pada FTA adalah probabilitas bersyarat. Sebagai ilustrasi Anda dapat membayangkan fungsi sebuah water sprinkler (alat yang menyemburkan air ketika terdeteksi adanya api atau ketika suhu ruangan telah melampaui suhu yang ditentukan disuatu ruangan). Probabilitas water sprinkler menyala secara otomatis dipicu oleh suatu kondisi atau peristiwa yang berpotensi terjadinya kebakaran, misalnya kondisi temperatur ruangan berada pada suhu tertentu (probabilitas bersyarat). Dengan kata lain, probabilitas tersebut tidak diperoleh dari pengujian dalam kondisi normal, melainkan pada kondisi atau peristiwa pemicu terjadi.

3) Pelaksanaan ‘Analisis Pohon Kesalahan’
Dalam penerapannya, teknik FTA yang digunakan secara kualitatif memiliki 2 (dua) tipe notasi dasar: peristiwa (events) dan gerbang logika (logic gates).

◇ Notasi peristiwa (events) terdiri dari 4 simbol, antara lain:
1. Lingkaran (basic event)
2. Persegi (intermediate event)
3. Segi 4 Wajik (undeveloped event)
4. Segitiga (transfer symbol)

◇ Notasi gerbang logika (logic gates) terdiri dari 3 simbol, antara lain:
1. AND Gate
2. OR Gate
3. Voting OR Gate

◇ Penerapan teknik FTA dapat dilakukan dengan 4 langkah utama, antara lain:
1. Dapatkan pemahaman mengenai suatu sasaran;
2. Definisikan peristiwa risiko yang tidak diinginkan terkait dengan suatu sasaran;
3. Berdasarkan informasi yang ada dan expert judgement, simpulkan penyebab-penyebab terjadinya suatu peristiwa risiko;
4. Buat fault tree (pohon kesalahan) dengan menggunakan notasi events dan logic gates; dan
5. Evaluasi analisis pohon kesalahan Anda.

4) Kekuatan dan Kelemahan ‘Analisis Pohon Kesalahan’

Kekuatan:
• Memusatkan perhatian pada efek kegagalan yang terkait langsung dengan peristiwa utama
• Menganalisis sistem dengan banyak antarmuka dan interaksi
• Mengidentifikasi jalur kegagalan sederhana di dalam sistem yang sangat kompleks

Kelemahan:
• Hanya mengenal keadaan biner (berhasil / gagal) saja.
• Tidak memungkinkan untuk mengikutsertakan efek domino pada setiap penyebab peristiwa risiko utama.
• Tidak dapat menjamin seluruh penyebab peristiwa risiko sudah disertakan seluruhnya atau tidak.
• Tidak membahas interdependensi waktu atau bersifat model statis.


DAFTRA PUSTAKA

Prastiko Akbar. 2017. “Fault Tree Analysis” Diakses dari http://akbarartikel-akbar.blogspot.com Pada tanggal :11 Februari 2021

Irmapa. 2021. “Belajar Teknik Asesmen Risiko – Analisis Pohon Kesalahan (Fault Tree Analysis – FTA)” Diakses dari https://irmapa.org/belajar-teknik-asesmen-risiko-analisis-pohon-kesalahan-fault-tree-analysis-fta Pada tanggal : 01 Maret 2021

Rachman Noor Charif. 2019. “Belajar Teknik Industri” Diakses dari https://teknik-industri-rachman.blogspot.com. Pada tanggal : 01 Maret 2021

PROSPEK KERJA TEKNIK INDUSTRI :KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3)

9:06 PM 1 Comment

PROSPEK KERJA TEKNIK INDUSTRI :
KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3)

Halo KMTI-UB, apa kabarnya ? semoga sehat selalu ya, dan tetap jaga jarak ! 
Kali ini kita ingin membahas tentang salah satu prospek kerja dari program studi Teknik Industri, yaitu K3. Mungkin K3 bukan hal yang asing ditelinga para mahasiswa/I Teknik Industri, karena K3L merupakan salah satu mata kuliah yang kita pelajari.
Keselamatan & Kesehatan Kerja atau biasa disingkat K3 adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya, dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. (Menurut Filosofi Mangkunegara).
Tugas seseorang yang bekerja di bagian K3 adalah menjamin dan melindungi keselamatan serta kesehatan tenaga kerja melalui berbagai upaya keamanan pekerja. Seorang ahli K3 pun juga memiliki tugas umum yaitu : 
1. Memperoleh informasi seputar syarat-syarat pelaksanaan K3
2. Menjaga jalannya pelaksanaan peraturan K3 sesuai bidang yang ditekuninya
3. Mengontrol keadaan lingkungan kerja mulai dari pengecekan kondisi mesin, analisis sifat pekerjaan, dan mengawasi seluruh proses produksi.
Pada Mata Kuliah K3, kita mempelajari bagaimana cara mengevaluasi tempat kerja terkait dengan pelanggaran keselamatan, kualitas udara, dan potensi bahaya lainnya. Bukan hanya melakukan evaluasi, tapi juga membuat rekomendasi kepada atasan di sebuah perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Lingkungan kerja yang aman dan sehat akan meningkatkan produktivitas dan mendukung perkembangan bisnis perusahaan. 
Penerapan regulasi K3 menjadi sangat penting, karena adanya tuntutan peraturan nasional dan internasional yang mengharuskan seluruh perusahaan dan organisasi untuk menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja.
Menurut UU No 13 Tahun 2003 pasal 87, K3 adalah himbauan keamanan dalam bekerja agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, himbauan ini adalah hal penting yang wajib diterapkan oleh semua perusahaan. 
Peran dan Tanggung jawab profesi K3 :
1. Membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan keselematan dan kesehatan kerja sesuai dengan bidang yang ditentukan
2. Memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya atau yang akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan kepadanya
3. Memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, secara berkala pada dokter yang ditunjuk
4. Membuat petunjuk keselamatan kerja di setiap divisi perusahaan
5. Merancang sistem keamanan dan keselamatan kerja untuk pertolongan pada setiap kecelakaan kerja.
Jenjang karir :
1. Staf (bertugas memantau pelaksanaan K3 di perusahaan dan bertindak langsung di lapangan)
2. Supervisor (menyusun laporan pelaksanaan K3 dan mengevaluasi pelaksanaan)
3. Manajer (Membuat perencanaan K3 di perusahaan dan melaporkannya ke Direktur atau pimpinan perusahaan)
Menjadi seorang ahli K3 pastinya membutuhkan pengetahuan serta skill tentang Pengetahuan K3, kemampuan analisis, pendidikan ilmu keperawatan dasar, pendidikan ilmu kedokteran dasar, kemampuan teknik keselamatan, serta kemampuan penguasaan bahasa asing. Beberapa pengetahuan dasar dan keahlian tersebut dapat dipelajari di program studi K3 dan Teknik Industri.

Referensi :
https://campus.quipper.com/careers/ahli-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-k3
https://glints.com/id/lowongan/prospek-kerja-jurusan-k3/#.YA5MTOgzbIU 
https://rencanamu.id/cari-jurusan/kesehatan/kesehatan-dan-keselamatan-kerja 

JOB DESIGN (Rancangan Pekerjaan)

7:02 PM Add Comment
Rancagan Pekerjaan (Job Design), berarti menguraikan tugas, tanggung jawab, kualifikasi, metode, dan hubungan yang diperlukan untuk melakukan serangkaian pekerjaan tertentu. Dengan kata lain, rancangan pekerjaan mencakup komponen tugas dan pola interaksi di antara karyawan, dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan kebutuhan sosial pemegang kerja. Tujuan utama rancangan pekerjaan (atau desain ulang) adalah untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas karyawan (Rush 1971). Produktivitas yang meningkat dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk. Misalnya, fokusnya dapat pada peningkatan kualitas dan kuantitas barang dan jasa, pengurangan biaya operasi, dan / atau pengurangan biaya perputaran dan pelatihan.
Ada beberapa metode dan teknik penting yang digunakan manajemen saat merancang pekerjaan. Ini adalah:

 
Job Simpification atau Penyederhanaan Pekerjaan, berarti memecah pekerjaan menjadi sub-bagian yang relatif lebih mudah dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas individu dengan meminimalkan upaya fisik dan mental yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang kompleks. Setelah tugas kompleks dibagi menjadi tugas yang relatif lebih mudah, setiap tugas diberikan kepada individu yang melakukan ini berulang kali. Dengan melakukan hal yang sama berulang kali, karyawan memperoleh keahlian dalam pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka dan sebagai hasilnya, profitabilitas organisasi meningkat. Namun bagaimanapun, dengan melakukan tugas yang sama berulang kali, karyawan mungkin merasa bosan dan mungkin menolak hal yang monoton. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan ketidakhadiran karyawan, kesalahan dan kecelakaan, dll. Karena konsekuensi negatif ini, produktivitas secara keseluruhan dapat terpengaruh secara merugikan, dan organisasi dapat mengalami kerugian secara keseluruhan.
Job Rotation atau Rotesi Pekerjaan, adalah teknik manajemen di mana seorang karyawan dipindahkan dari satu peran pekerjaan ke peran lainnya, dengan tujuan membiasakannya dengan semua vertikal organisasi. Umumnya para management trainee yang lebih fresh dalam dunia bisnis dialihkan ke posisi pekerjaan yang berbeda agar mereka lebih memahami fungsi bisnis. Tujuan dari rotasi pekerjaan adalah untuk mengurangi pekerjaan yang monoton dan membiarkan karyawan memperoleh multi keterampilan yang diperlukan untuk melakukan berbagai tugas dalam organisasi.
Job Enrichment atau Pengayaan Pekerjaan, adalah teknik desain pekerjaan yang digunakan untuk meningkatkan kepuasan di antara karyawan dengan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab yang lebih tinggi kepada mereka dan dengan demikian memungkinkan mereka untuk menggunakan kemampuan mereka sepenuhnya. Tujuan di balik pengayaan pekerjaan adalah untuk memotivasi karyawan untuk menggunakan kemampuan mereka yang tetap tidak digunakan selama tindakan mereka. Selain itu, melalui pengayaan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja yang monoton, dan karyawan mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru, yang pada akhirnya menghasilkan peningkatan tingkat kepuasan. 
Job Enlargement atau Perluasan Pekerjaan, mengacu pada perluasan pekerjaan secara horizontal di mana semakin banyak aktivitas, dan tugas ditambahkan ke ruang lingkup pekerjaan yang ada di tingkat yang sama dalam organisasi. Dengan kata lain, perluasan pekerjaan berarti meningkatkan ruang lingkup tugas dan tanggung jawab seseorang dengan menambahkan kegiatan terkait ke profil pekerjaannya yang ada dan umumnya tanpa ada perubahan dalam wewenang dan tingkatannya dalam hierarki dalam organisasi. Tujuan dibalik perluasan pekerjaan ini adalah untuk meningkatkan fleksibilitas karyawan dan mengurangi monoton yang terjadi secara bertahap dalam kurun waktu tertentu. Seringkali, karyawan tidak diwajibkan untuk mendapatkan pelatihan untuk kegiatan yang berhubungan dengan tugas karena dia sudah menyadarinya dan melakukannya selama beberapa waktu. Namun demikian, jika aktivitas yang ditambahkan merupakan hal baru bagi seorang karyawan dan tidak terkait dengan sifat pekerjaannya yang ada, maka pelatihan yang tepat harus diberikan kepadanya untuk membiasakan diri dengan kondisi kerja yang baru.
Terdapat tiga hal penting dalam Job Design :
1. Hasil rancangan harus mencerminkan pemenuhan tuntutan lingkungan
2. Mencapai hasil dan kepuasan pekerjaan yang maksimal
3. Para pelaksana harus mampu berperan sebagai feedback
Secara umum, perancangan jabatan yang baik dan tepat akan menghasilkan tingkat efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan kepuasan kerja yang tinggi.


Social Information Processing Approach
Dilandasi pemikiran Salancik dan Pfeffer, yang menyatakan bahwa individu adalah organisme adaptif, menyesuaikan Sikap, Perilaku, Nilai, terhadap lingkungan (konteks) sosial, pengalaman masa lalu, serta situasi yang dihadapi. Berarti, terdapat 3 penyebab utama munculnya persepsi, sikap, perilaku : 
- Evaluasi terhadap kondisi (riil) lingkungan 
- Pengalaman memegang jabatan di masa lalu 
- Informasi tentang kondisi/corak lingkungan sosial (aspek ketiga sering menjadi yang paling berpengaruh).


References :
Disha, “ Job Design: Definition and Concept of Job Design”. https://www.yourarticlelibrary.com/organization/job-design-definition-and-concept-of-job-design/45027. Diakses pada 3 Desember 2020 pukul 18.30 WIB

Unknown, “Job Design”.  https://businessjargons.com/job-design.html. Diakses pada 3 Desember 2020 pukul 18.45 WIB

Unknown, “Job Design: Definition, Approaches, Techniques”. https://www.iedunote.com/job-design. Diakses pada 3 Desember 2020 pukul 19.20 WIB

Unknown, “Job Design (Perancangan Jabatan)”. https://slideplayer.info/slide/12665460/. Diakses pada 14 Desember 2020 pukul 14.35 WIB


Manajemen Industri

5:39 PM Add Comment
Jika mendengar kata manajemen, maka yang akan muncul dibenak kita ialah jurusan perkantoran yang mempelajari tentang bagaimana mengelola perusahaan atau sebuah organisasi. Dalam teknik industri, kita juga mempelajari hal tersebut. 
Pengertian umum dari Manajemen Industri ialah, proses mengatur atau mengelola Planning, Organizing, Actuating, & Controlling yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan industri untuk mencapai tujuan bisnis secara efisien dan efektif.
Manajemen Industri merupakan kemampuan manajemen dari suatu industri dalam upaya mengembangkan industrinya dengan prinsip Perencanaan Pengendalian, memenuhi fungsi manajerial untuk mencapai tujuan bisnis, tingkat manajemen yang didukung oleh keterampilan yang dibutuhkan untuk memobilisasi sumber daya manusia (SDM) ke pasar.

Tingkatan Manajemen Industri
a. Secara Horizontal
1. Administrasi
Merupakan bagian, departemen atau divisi yang bertugas dan memiliki tanggung jawab atas pembuatan, pengarsipan dan pengiriman dokumen-dokumen surat dari dan untuk perusahaan atau organisasi.
2. Keuangan
Merupakan departemen, divisi, atau bagian yang bertugas untuk mengatur, mengelola dan mengalokasikan dana perusahaan untuk memenuhi keperluan operasional setiap divisi di dalam perusahaan.
3. Produksi
Merupakan departemen yang memiliki tugas untuk mengelola, merencanakan, pengendalian, serta pelaksana produksi. Fungsi utama produksi adalah mengolah bahan baku menjadi barang jadi yang memiliki nilai jual.
4. Akuntan
Merupakan departemen yang bertanggung jawab dan bertugas untuk mencatat setiap transaksi keuangan, termasuk pemasukan dan pengeluaran. Tugas utama akuntan adalah membuat neraca laba rugi secara berkala.

5. Litbang
Merupakan departemen yang memiliki tugas untuk melakukan riset pasar, pengembangan produk dan analisis persaingan pasar.
6. Personalia
Merupakan departemen yang bertanggung jawab dan bertugas untuk mengelola sumber daya manusia, baik penyediaan serta pemeliharaan. Tugas utamanya adalah perekrutan, training, promosi, demosi, dan penilaian kinerja karyawan.

b. Secara Vertikal

1. Top Management
Manajemen puncak atau Biasa disebut CEO (Chief Executive Officer) terdiri dari beberapa orang pimpinan perusahaan. Yang memiliki jabatan pimpinan tinggi di perusahaan. Tugas dari top management membuat berbagai kebijakan strategis dalam jangka panjang dan sifat pekerjaan condong ke arah manajerial.

2. Middle Management
Manajemen menengah atau manajer divisi. Pada tingkat manajemen ini, manajer divisi bertugas dan bertanggung jawab dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan yang strategis.

3. First Line Management
Manajemen bawah atau manajer fungsional. Yang termasuk dalam manajemen bawah ini adalah Supervisor. Dimana Supervisor memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberi arahan kepada pekerja operasional atau pelaksanaan sesuai dengan perencanaan yang telah di rancang oleh manajemen tingkat atas.










Manajemen Industri dan Sejarah Perkembangannya
Awalnya manajemen industry adalah hasil pengembangan dari manajemen pabrik. Karena manajemen industri memiliki kesamaan dengan manajemen pabrik yaitu manajemen teknis. Maka dari itu, hal yang menyangkut dalam manajemen pabrik semua tercakup di manajemen industri. Dengan ini manajemen industri dapat menangani masalah yang terdapat pada organisasi pabrik, administrasi perkantoran, serta akuntansi keuangan seperti pembukuan.
Pada tahun 1952, dibentuknya MIT School of Management Industry. Lembaga Pendidikan ini sangat memberikan pengaruh pada perkembangan manajemen industri. Yang kemudian pada tahun 1964 berganti nama menjadi MIT Sloan School of Management. Sekolah manajemen ini bertujuan untuk memberikan ilmu dan wawasan melalui program manajemen pascasarjana. Yang mana program ini menjadi panutan bagi sekolah manajemen lain.

Pendidikan Manajemen Industri
Manajemen industri ini banyak mempunyai kelebihan dan terfokus pada bisnis tertentu, sehingga begitu banyaknya lembaga pendidikan yang menyediakan jurusan manajemen industri. Manajemen industri ini sangat penting dalam pekerjaan. Karena dengan menguasai ilmu manajemen industri ini, maka seseorang bisa memprediksi pertumbuhan perusahaan dan dapat ikut serta dalam pemecahan masalah logistik.
Lulusan manajemen industri sebagian telah memulai karirnya sebagai penyedia produksi, analis operasional, analis sumber strategis dan analis bisnis software. Lulusan ini masuk dalam program tingkat pengembangan kepemimpinan organisasi. Program ini membantu mereka untuk mendapat wawasan di bidang bisnis dan teknis.
Beberapa contoh jurusan manajemen yang terfokus pada bidang tertentu, diantaranya ilmu computer, rekayasa keuangan, system informasi manajemen, operasi dan supply manajemen, statistik dan lain-lain.

JUST IN TIME

6:31 PM Add Comment
Lebih Mengenal Sistem Just In Time
Just In Time atau Sistem Produksi Tepat Waktu merupakan suatu system produksi  yang dirancang untuk mendapatkan kualitas, menekan biaya dan mencapai waktu penyerahan sefisien mungkin dengan menghapus seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga perusahaan mampu menyerahkan produknya (barang atau jasa) sesuai kehendak konsumen tepat waktu.
Konsep JIT ini adalah sebuah konsep yang bahan bakunya digunakan untuk aktivitas produksi didatangkan dari supplier tepat waktu pada saat bahan tersebut dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga biaya persediaan barang (stocking cost) dapat diminimalisir.
Terdapat filosofi manufacturing yang dimana untuk menghilangkan pemborosan waktu dari proses pembelian hingga proses distribusi dan filosofi yang berpusat pada pengurangan biaya melalui peniadaan persediaan. Ide dasar dari Just In Time ialah membeli bahan jika persediaan barang telah habis atau bila diperlukan untuk memenuhi order dari konsumen. Seluruh bahan baku haruslah tersedia di tempat kerja, dan produk juga harus selesai dan terseduia bagi pelanggan saat dibutuhkan.
Maka dapat disimpulkan, pada konsep JIT ini tidak ada storage cost dan carrying cost. Prinsip dasar dari JIT adalah meningkatkanya kemampuan perusahaan secara kontinu  untuk merespon perubahan dengan meminimalisir pemborosan.
Berikut merupakan 4 aspek pokok dalam konsep just in time adalah ;
1. Meminimalkan atau menghilangkan segala aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa.
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan kualitas yang lebih tinggi
3. Selalu mengupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan dalam meningkatkan efisiensi kegiatan
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.




Tujuan dan Manfaat Sistem Produksi  Just In Time menurut para ahli;
Menurut Hansen dan Mowen (2001:412), tujuan Just in Time memiliki dua tujuan strategis yaitu: untuk meningkatkan keuntungan dann memperbaiki daya saing perusahaan. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengontrol biaya-biaya, memperbaiki kerja pengiriman, serta kualitas. 
Menurut Krismiaji (2011:125), tujuan utama Just in Time adalah menghasilkan produk jika hanya ada pesanan dan akan menghasilkan kuantitas produk sesuai pesanan yang diminta. Manfaat utamanya ialah mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan biaya produk, menurunkan alokasi biaya tak langsung, mengubah perilaku dan kepentingan relatif biaya tenaga kerja langsung, serta mempengaruhi sistem penentuan biaya pesanan dan biaya proses.
Konsentrasi just in time adalah pada stockless production atau ketiadaaannya produksi. Tujuan pengurangan persediaan menjadi nol hanya akan tercapai jika :
1. Waktu dan biaya penyiapan (atau pesanan) rendah atau tidak signifikan.
2. Ukuran lot sama dengan satu.
3. Minimun dan lead time hamper seketika.
4. Beban kerja seimbang dan merata. 
5. Tidak ada gangguan karena kehabisan stok, kualitas buruk, waktu henti peralatan yang tidak dijadwalkan, perubahan teknis atau perubahan tidak terencana lainnya. 

Kelebihan Sistem Produksi  Just In Time, antara lain :
1. Tingkat Persediaan yang rendah sehingga dapat menghemat tempat penyimpanan serta biaya sewa tempat dan asuransi.
2. Bahan produksi hanya diperoleh pada saat diperlukan, sehingga hanya memerlukan modal kerja yang rendah.
3. Kemungkinan terjadinya pemborosan akibat produk yang ketinggalan zaman, kadaluarsa, atau rusak menjadi semakin rendah.
4. Penumpukan produk jadi yang tidak terjual dapat dihindari.
5. Memerlukan penekan pada kualitas bahan-bahan produksi yang dipasok oleh Supplier sehingga dapat mengurangi waktu pemeriksaan dan pengerjaan ulang.

Kelemahan Sistem Produksi  Just In Time, antara lain :
1. Tidak memiliki toleransi terhadap kesalahan, sehingga akan sangat sulit untuk dilakukannya perbaikan.
2. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pemasok baik dalam kualitas maupun ketepatan waktu pengiriman.
3. Biaya transaksi akan relatif tinggi akibat frekuensi transaksi yang tinggi. 
4. Perusahaan manufacturing yang bersangkutan akan sulit untuk memenuhi permintaan yang mendadak tinggi karena pada kenyataannya tidak ada produk jadi yang lebih.

















DAFTAR PUSTAKA 
Wahyono, Budi. 2013. "Just In Time (JIT) Dan Kanban" . Di akses dari : http://www.pendidikanekonomi.com. Pada tanggal : 28 Februari 2020
Pamungkas, Ardhi. 2015. "SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME-JIT)". Di akses dari : https://ardhipamungkas.wordpress.com. Pada tanggal : 28 Februari 2020 
Rahmah, Nindya. 2017. "Apa yang dimaksud dengan sistem Just in Time (JIT)?". Di akses dari : https://www.dictio.id. Pada tanggal : 28 Februari 2020 
Unknown. 2018. "Pengertian Sistem Produksi Just In Time (JIT)". Di akses dari : https://ipqi.org. Pada tanggal : 28 Februari 2020